Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2013

Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi  (bedakan dengan Peristiwa 10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda).
Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945. 2 hal utama yang menyebabkan pertempuran ini terjadi karena larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi

Kronologi Peristiwa

Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia
Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan tokoh-tokohnya
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada 6 dan 9 Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Kaburnya tawanan Jepang
Hal pertama yang menyulut kemarahan para pemuda Indonesia adalah ketika pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari Cepiring ke Bulu, dan di tengah jalan mereka kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai dibawah pimpinan Jendral Nakamura. Kidobutai terkenal sebagai pasukan yang paling berani, dan untuk maksud mencari perlindungan mereka bergabung bersama pasukan Kidobutai di Jatingaleh.

Tewasnya Dr. Kariadi
Setelah kaburnya tawanan Jepang, pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah. Cadangan air di Candi, desa Wungkal, (tanjakan Siranda,Candi baru Semarang) waktu itu adalah satu-satunya sumber mata air di kota Semarang. Sebagai kepala RS Purusara (sekarang Rumah Sakit Kariadi) Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut. Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Isteri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.

Peristiwa Lain
  1.  Sebelum tanggal 20 Oktober, ada kejadian Gencatan Senjata antara kedua belah pihak, tetapi kendati demikian kejadian ini tidak memadamkan situasi, kejadian diperparah dengan pembunuhan sandera.
  2. Di Pedurungan, orang-orang Semarang, terutama dari Mranggen dan Genuk menjadi satu untuk memindahkan tawanan, yang menjadi sandera. Karena janji Jepang untuk mundur tidak dipenuhi maka 75 sandera itu dibunuh, sehingga perang berlanjut.
  3. Datangnya pemuda dari luar Kota Semarang untuk membantu menjadikan Jepang marah
  4. Radius 10 km dari Tugumuda menjadi medan peperangan
Monumen Tugu Muda
Untuk memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang, dibangun Tugu Muda sebagai monumen peringatan. Tugu Muda ini dibangun pada tanggal 10 November 1950. Diresmikan oleh presiden Ir. Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Bangunan ini terletak di kawasan yang banyak merekam peristiwa penting selama lima hari pertempuran di Semarang, yaitu di Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran dengan lawang sewu. Selain pembangunan Tugu Muda, Nama dr. Kariadi diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Semarang.



Foto :


Tentara Indonesia





Rumah sakit Purusara ( Rs Karadi )



Tugu Muda











Sumber: berbagai sumber
Posted by Agung Sulistyo On 16.14 No comments READ FULL POST
Tugumuda Semarang terletak di tengah persimpangan Jalan Pandanaran, Jalan Mgr Soegijapranata, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda dan Jalan Dr. Sutomo. Sebelah Utara tugu ini ini terdapat Gedung Pandanaran, sebelah Timur terdapat Lawangsewu, Selatan berhadapan dengan Museum Mandala Bhakti, dan sebelah barat terdapat Wisma Perdamaian.
Tugumuda merupakan sebuah monumen bersejarah kota Semarang yang dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi. Lawangsewu menjadi saksi bisu perjuangan anak-anak Muda Semarang yang dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945 itu.

Pertempuran ini dipicu kaburnya tawanan Jepang pada Minggu, 14 Oktober 1945. Pada pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu (sekarang LP Wanita Bulu).
Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Semarang yakni Reservoir Siranda di Candilama. Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh.
Sore itu juga tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah. Sebagai kepala RS Purusara (sekarang Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi) Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut. Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu.

Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Istri Dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi, namun gagal.
Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.
Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubernur Jateng Mr Wongsonegoro meletakkan batu pertama pembangunan monumen ini di dekat alun-alun. Namun karena pada bulan November 1945 meletus perang melwan sekutu dan jepang, proyek ini terbengkalai. Kemudian tahun 1949, Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) memprakarsai pembangunannya kembali. Namun upaya ini pun gagal karena kesulitan pendanaan.

Pembangunan baru berjalan lancar ketika pada 1951 Walikota Semarang Hadi Soebeno Sosro Werdoyo membentuk panitia Tugumuda. Lokasi pun dipindah dari alun-alun ke lokasi sekarang. Desain tugu dkerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada bagian bawah digarap seniman hendro. Batu-batu didatangkan dari Kaliurang dan Paker. Tanggal 10 November 1951 diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 1953 bertepatan dengan Hari Kebangkitan nasional Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Soekarno.
Tugumuda sempat mengalami beberapa penambahan, terutama pada kolam dan taman. Kini kawasan Tugumuda ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Penetapan itu berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2011-2031. Di kawasan ini terdapat bangunan bersejarah seperti Gedung Lawangsewu, Wisma Perdamaian, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan bangunan Pasar Bulu.

Foto:
Posted by Agung Sulistyo On 15.18 No comments READ FULL POST

Kota SEMARANG, sebagai lbu kota Jawa Tengah, Kota Semarang memiliki sejarah yang panjang. Mulanya hanya dari dataran lumpur, yang kemudian hari berkembang pesat menjadi lingkungan maju dan menampakkan diri sebagai kota yang penting. Sebagai kota besar, ia menyerap banyak pendatang. Mereka ini, kemudian mencari penghidupan dan menetap di Kota Semarang sampai akhir hayatnya. Lalu susul menyusul kehidupan generasi berikutnya. Di masa dulu, ada seorang dari kesultanan Demak bernama pangeran Made Pandan bersama putranya Raden Pandan Arang, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat Disuatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirang, membuka hutan dan mendirikan pesantren dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu munculah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.Sebagai pendiri desa, kemudian beliau diangkat menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinan Pandan Arang, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dan Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Akhirnya Pandan Arang oleh Sultan Pajang melalui konsultasi dengan Sunan Kalijaga, juga bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 masehi dinobatkan menjadi Bupati yang pertama. Pada tanggal itu "secara adat dan politis berdirilah kota Semarang" . Masa pemerintahan Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun masa itu tidak dapat berlangsung lama karena sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian yang melimpah ruah. la meninggalkan jabatannya, meniggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan melewati Salatiga dan Boyolali, akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama jabalekat di daerah Klaten. Didaerah ini, beliau menjadi seorang penyiar agama Islam dan menyatukan daerah Jawa Tengah bagian Selatan dan bergelar Sunan Tembayat. Beliau wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak Gunung Jabalkat. Sesudah Bupati Pandan Arang mengundurkan diri lalu diganti oleh Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586), kemudian disusul pengganti berikutnya yaitu Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659), Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666), Mas Tumenggung Prawiroprojo (1966-1670), Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674), Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung. Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701), Raden Maotoyudo atau Raden Summmgrat (1743-1751), Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadmienggolo (1751-1773), Surohadimenggolo IV (1773-?), Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?), Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841), Putro Surohadimenggolo (1841-1855), Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860), RTP Suryokusurno (1860-1887), RTP Reksodirjo (1887-1891), RMTA Purbaningrat (1891-?), Raden Cokrodipuro (?-1927), RM Soebiyono (1897-1927), RM Amin Suyitno (1927-1942), RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945), R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan, M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946, 1949 - 1952 yaitu masa Pemerintahan Republik Indonesia) pada waktu Pemerintahan RIS yaitu pemerintahann federal diangkat Bupati RM.Condronegoro hingga tahun 1949. Sesudah pengakuan kedaulatan dari Belanda, jabatan Bupati diserah terimakan kepada M. Sumardjito. Penggantinya adalah R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956). Kedudukannya sebagai Bupati Semarang bukan lagi mengurusi kota melainkan mengurusi kawasan luar kota Semarang. Hal ini terjadi sebagai akibat perkembangnya Semarang sebagai Kota Praja.

Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, pemerintahan daerah Kota Semarang belum dapat menjalankan tugasnya karena pendudukan Belanda. Tahun 1946 lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda.Ini terjadi pada tangga l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menaiigkap Mr. Imam Sudjahri, walikota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Narnun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta. Beliau menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan. Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut :
1. Mr. Moch.lchsan
2. Mr. Koesoebiyono (1949 - 1 Juli 1951)
3. RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo ( 1 Juli 1951 - 1 Januari 1958)
4. Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat ( 7Januari 1958 - 1 Januari 1960)
5. RM Soebagyono Tjondrokoesoemo ( 1 Januari 1961 - 26 April 1964)
6. Mr. Wuryanto ( 25 April 1964 - 1 September 1966)
7. Letkol. Soeparno ( 1 September 1966 - 6 Maret 1967)
8. Letkol. R.Warsito Soegiarto ( 6 Maret 1967 - 2 Januari 1973)
9. Kolonel Hadijanto ( 2Januari 1973 - 15 Januari 1980)
10. Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH ( 15 Januari 1980 - 19 Januari 1990)
11. Kolonel H.Soetrisno Suharto ( 19Januari 1990 - 19 Januari 2000)
12. H. Sukawi Sutarip SH. ( 19 Januari 2000 - sekarang )

Pertumbuhan Fisik
Secara garis besar pertumbuhan Kota Semarang telah mengalami berubahan - perubahan fisik dari tahun ketahun antara :
· Periode sebelum Dataran Alluvial terbentuk
· Periode Tahun 900 s/d 1500
· Periode Tahun 1500 s/d 1700
· Periode Tahun 1700 s/d 1906
· Periode Tahun 1906 s/d 1942
· Periode Tahun 1942 s/d 1976

Posted by Agung Sulistyo On 15.08 No comments READ FULL POST

Rabu, 20 Februari 2013

PIKA Semarang tahun 1953.


PIKA Semarang tahun 1973.


PIKA Semarang tahun 1997.







PIKA Semarang tahun 2012.



Sumber: sumber foto : ikapika.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.42 1 comment READ FULL POST
Bangunan yang terletak di Kota Lama Semarang, tepatnya di jalan Letjen. Suprapto no.33 ini di bangun sekitar pertengahan abad ke  19, pada waktu itu pernah digunakan sebagai Kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain kantor tersebut digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu , DE ZEIKEL. Saat ini gedung Marba sudah tidak difungsikan lagi.

gedung-marba-kota-lama-semarang
Fotografer oleh : Akhyar Fikri

gedung-marba-kotalama-semarang


Sumber: http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.37 No comments READ FULL POST
Pasar Bulu Semarang. | Bangunan yang telah berdiri megah selama 54 tahun di jalan MGR Soegijapranata ini mestinya dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya yang LAYAK dilindungi keberadaannya, tapi apa mau dikata, waktu berjalan sudah menjawabnya, kini sudah rata jadi tanah, mau dijadikan polemik apapun, biarkan foto – foto dibawah ini menjadi catatan tersendiri atas prestasi Pasar Bulu Semarang.
















 















 











Bila Anda masyarakat kota Semarang yang pernah merasakan kemegahan karya Arsitektur ini berdiri lebih dari 50 tahun dan sempat merasakan kejayaan Pasar Tradisonal Bulu Semarang ini, hari – hari itu sudah berlalu dan SEKARANG ! tinggal menanti wajah baru Pasar Bulu Semarang.

Sumber:http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.33 No comments READ FULL POST

Jalan – jalan di kota Semarang rasanya tidak boleh melewatkan beberapa bangunan cantik, bersejarah dan modern berikut ini yang memiliki ciri Arsitektur tersendiri, tentunya ini hanya sebagian dari masih banyak bangunan – bangunan menarik lainnya di kota Semarang. Jika Anda berkunjung ke kota Semarang, tentu beberapa bangunan dibawah ini layak untuk Anda kunjungi dan membuat beberapa foto menarik

Gedung Lawang Sewu.
Lokasi : Jl. Pemuda – Kawasan Tugu Muda

Gereja Blenduk.download wallpaper
Lokasi : Jl. Letjend. Soeprapto – Kawasan Kota Lama



Masjid Agung Jawa Tengah.download versi wallpaper
Lokasi : Jl. Gajah.








Masjid Besar Kauman.


Lokasi : Jl. Kauman



Mercusuar.


Lokasi : Pelabuhan Tanjung Mas



Pagoda Avalokitesvara.




Posted by Agung Sulistyo On 08.17 No comments READ FULL POST


GOR Trilomba Juang, Mugas, merupakan salah satu monumen prestasi olah raga Jawa Tengah. Ia dibangun untuk mengenang kejayaan provinsi ini dalam perhelatan trilomba juang tingkat nasional tahun 1985. Saat itu, tim Jateng menjadi juara umum dan membawa pulang piala bergilir Presiden Soeharto. Atas prakarsa Gubernur Soepardjo Roestam, hadiah uang tunai sebesar Rp 50 juta yang didapat kemudian digunakan untuk merenovasi Lapangan Mugas. Tentu saja, uang sebesar itu tidak cukup.

Kekurangannya ditutup oleh dana APBD Provinsi Jateng. Trilomba Juang kemudian dipakai sebagai nama baru gelanggang olahraga milik warga Kota Semarang itu. Kompleks yang semula hanya berupa lapangan sepak bola dan enam lapangan tenis itu, dikembangkan menjadi gelanggang olahraga terpadu.

Lapangan bola dilengkapi dengan bangunan tribun dan lintasan atletik. Demikian pula lapangan tenis. Selain itu, fasilitasnya ditambah dengan gedung bulu tangkis, serta kompleks pertokoan dan perkantoran. Dirunut ke belakang, GOR Trilomba Juang bermula dari lapangan milik Raja Gula Oei Tiong Ham. Warga Semarang menyebut lapangan itu dengan nama Lapangan Sentiling.

Sentiling merupakan verbastering dari nama pasar malam internasional pada tahun 1914, yakni Koloniale Tentoonsteling. Pasar malam yang berlangsung dari tanggal 20 Agustus hingga 22 November itu, digelar di area seluas 26 hektare membentang dari daerah Randusari hingga kaki perbukitan Candi. Tanah tersebut kepunyaan Raja Gula Oei Tiong Ham.

Kesulitan dalam pengucapan Koloniale Tentoonstelling, warga bumi putera menyebutnya dengan sentiling. Bertahun-tahun kemudian, ingatan akan pasar malam yang diikuti sejumlah negara Asia dan Eropa itu, masih melekat di benak masyarakat. Mereka menyebut daerah bekas perhelatan akbar itu dengan nama Sentiling. Nah, dari situlah kompleks lapangan olahraga yang terletak di sebelah barat gedung Hogere Burger School (HBS) tersebut dinamakan Sentiling.
Tergolong Bagus Menurut Kabid Pembinaan Pengcab Pelti Kota Semarang, H Achmad Muthowal, kondisi lapangan tenis Sentiling pada tahun 1930-an tergolong bagus. Lapangan itu kerap dipakai untuk pertandingan antarklub, termasuk turnamen yang diprakarsai Indonesia Moeda dan Bapak Tenis Indonesia Dr Hoerip pada Desember 1935. Bersamaan dengan turnamen itu, dicetuskan lahirnya Persatoean Lawn Tennis Indonesia (Pelti).       

Masa Pendudukan Jepang membuat kondisi Lapangan Sentiling terbengkelai. Kondisi itu terus berlanjut sampai masa kemerdekaan. Ny Atmo Rejo (69), penjual sate di kompleks Trilomba Juang menuturkan, kondisi Lapangan Sentiling pada tahun 1970-an kurang terawat. “Dulu, lapangannya belum diuruk, masih banyak alang-alangnya. Di lapangan itu, ada jalan setapak yang tembus di sekolahan STM (maksudnya SMKN 4-Red). Di sekitar lapangan ada 11 rumah milik warga, termasuk rumah saya,” kata Ny Atmo.

Atmo Timin, suami dari Ny Atmo Rejo bertugas sebagai tukang bersih-bersih di kompleks itu. Dia mendapat upah dari Pemerintah Kota Praja Rp 1.000/bulan. Pada saat GOR Trilomba Juang dibangun, warga diminta pindah ke tempat lain.
“Saya dan suami yang menanam pohon jati dan cemara di sekitar lapangan. Sebagian pohon sudah ditebang, tapi sisanya masih ada sampai sekarang.” (Rukardi-56) (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/05/07/12368)



Posted by Agung Sulistyo On 08.03 No comments READ FULL POST

Dulu : Bioskop yang terkenal dengan nama Bioskop Murni.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan ruko Gajah Mada (jalan GajahMada)

Dulu : gedung ini di kenal sebagai Gedung Harmoni (Gris) (1915-1930), dahulu Societ de Harmonie merupakan tempat Meneer2 dan Mevrof2 kalangan atas untuk hangout, sempat menjadi gedung kesenian jawa, di bagian belakang gedung Gris ini dulunya ada gedung wayang orang Ngesti Pandawa pernah jaya di era 1970-80an, sekarang pindah di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh).
Sekarang : menjadi pusat perbelanjaan Paragon Mall dan Hotel Crowne Plaza (jalan Pemuda)

Dulu : Kantor Gubernur lama (mungkin, masih belum jelas gedung ini difungsikan sebagai apa, sebelum akhirnya menjadi Gedung Berlian), pada jaman pemerintahan Hindia Belanda dulunya bernama jalan “Oey Tiong Ham Weg
Sekarang : menjadi Kantor Gubernur kota Semarang (dikenal dengan sebutan Gedung Berlian, dibangun pada tahun 1970-an di-era Gubernur Muladi), sekarang bernama jalan Pahlawan. Setiap hari minggu jalan Pahlawan dijadikan kawasan Car Free Day di Semarang.

Dulu : Luna Theater Djomblang.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan MetroPlaza – ini perempatan antara jalan MT.Haryono – jalan lampersari – jalan Sriwijaya.

Dulu : Rumah Setan (Vrijmetselaars-Loge) dibongkar tahun 1976.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan ruko, ini adalah perempatan jalan Imam Bonjol – jalan Pierre Tendean – jalan Indraprasta.

Foto lama : dari berbagai sumber.
Foto baru : Heroe AbimanyuOASE (‘Oude Stad’ Art and Culture) Semarang.


Sumber: http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.01 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Label

Advertisement

Translate

Categories