Rabu, 20 Februari 2013

PIKA Semarang tahun 1953.


PIKA Semarang tahun 1973.


PIKA Semarang tahun 1997.







PIKA Semarang tahun 2012.



Sumber: sumber foto : ikapika.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.42 1 comment READ FULL POST
Bangunan yang terletak di Kota Lama Semarang, tepatnya di jalan Letjen. Suprapto no.33 ini di bangun sekitar pertengahan abad ke  19, pada waktu itu pernah digunakan sebagai Kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain kantor tersebut digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu , DE ZEIKEL. Saat ini gedung Marba sudah tidak difungsikan lagi.

gedung-marba-kota-lama-semarang
Fotografer oleh : Akhyar Fikri

gedung-marba-kotalama-semarang


Sumber: http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.37 No comments READ FULL POST
Pasar Bulu Semarang. | Bangunan yang telah berdiri megah selama 54 tahun di jalan MGR Soegijapranata ini mestinya dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya yang LAYAK dilindungi keberadaannya, tapi apa mau dikata, waktu berjalan sudah menjawabnya, kini sudah rata jadi tanah, mau dijadikan polemik apapun, biarkan foto – foto dibawah ini menjadi catatan tersendiri atas prestasi Pasar Bulu Semarang.
















 















 











Bila Anda masyarakat kota Semarang yang pernah merasakan kemegahan karya Arsitektur ini berdiri lebih dari 50 tahun dan sempat merasakan kejayaan Pasar Tradisonal Bulu Semarang ini, hari – hari itu sudah berlalu dan SEKARANG ! tinggal menanti wajah baru Pasar Bulu Semarang.

Sumber:http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.33 No comments READ FULL POST

Jalan – jalan di kota Semarang rasanya tidak boleh melewatkan beberapa bangunan cantik, bersejarah dan modern berikut ini yang memiliki ciri Arsitektur tersendiri, tentunya ini hanya sebagian dari masih banyak bangunan – bangunan menarik lainnya di kota Semarang. Jika Anda berkunjung ke kota Semarang, tentu beberapa bangunan dibawah ini layak untuk Anda kunjungi dan membuat beberapa foto menarik

Gedung Lawang Sewu.
Lokasi : Jl. Pemuda – Kawasan Tugu Muda

Gereja Blenduk.download wallpaper
Lokasi : Jl. Letjend. Soeprapto – Kawasan Kota Lama



Masjid Agung Jawa Tengah.download versi wallpaper
Lokasi : Jl. Gajah.








Masjid Besar Kauman.


Lokasi : Jl. Kauman



Mercusuar.


Lokasi : Pelabuhan Tanjung Mas



Pagoda Avalokitesvara.




Posted by Agung Sulistyo On 08.17 No comments READ FULL POST


GOR Trilomba Juang, Mugas, merupakan salah satu monumen prestasi olah raga Jawa Tengah. Ia dibangun untuk mengenang kejayaan provinsi ini dalam perhelatan trilomba juang tingkat nasional tahun 1985. Saat itu, tim Jateng menjadi juara umum dan membawa pulang piala bergilir Presiden Soeharto. Atas prakarsa Gubernur Soepardjo Roestam, hadiah uang tunai sebesar Rp 50 juta yang didapat kemudian digunakan untuk merenovasi Lapangan Mugas. Tentu saja, uang sebesar itu tidak cukup.

Kekurangannya ditutup oleh dana APBD Provinsi Jateng. Trilomba Juang kemudian dipakai sebagai nama baru gelanggang olahraga milik warga Kota Semarang itu. Kompleks yang semula hanya berupa lapangan sepak bola dan enam lapangan tenis itu, dikembangkan menjadi gelanggang olahraga terpadu.

Lapangan bola dilengkapi dengan bangunan tribun dan lintasan atletik. Demikian pula lapangan tenis. Selain itu, fasilitasnya ditambah dengan gedung bulu tangkis, serta kompleks pertokoan dan perkantoran. Dirunut ke belakang, GOR Trilomba Juang bermula dari lapangan milik Raja Gula Oei Tiong Ham. Warga Semarang menyebut lapangan itu dengan nama Lapangan Sentiling.

Sentiling merupakan verbastering dari nama pasar malam internasional pada tahun 1914, yakni Koloniale Tentoonsteling. Pasar malam yang berlangsung dari tanggal 20 Agustus hingga 22 November itu, digelar di area seluas 26 hektare membentang dari daerah Randusari hingga kaki perbukitan Candi. Tanah tersebut kepunyaan Raja Gula Oei Tiong Ham.

Kesulitan dalam pengucapan Koloniale Tentoonstelling, warga bumi putera menyebutnya dengan sentiling. Bertahun-tahun kemudian, ingatan akan pasar malam yang diikuti sejumlah negara Asia dan Eropa itu, masih melekat di benak masyarakat. Mereka menyebut daerah bekas perhelatan akbar itu dengan nama Sentiling. Nah, dari situlah kompleks lapangan olahraga yang terletak di sebelah barat gedung Hogere Burger School (HBS) tersebut dinamakan Sentiling.
Tergolong Bagus Menurut Kabid Pembinaan Pengcab Pelti Kota Semarang, H Achmad Muthowal, kondisi lapangan tenis Sentiling pada tahun 1930-an tergolong bagus. Lapangan itu kerap dipakai untuk pertandingan antarklub, termasuk turnamen yang diprakarsai Indonesia Moeda dan Bapak Tenis Indonesia Dr Hoerip pada Desember 1935. Bersamaan dengan turnamen itu, dicetuskan lahirnya Persatoean Lawn Tennis Indonesia (Pelti).       

Masa Pendudukan Jepang membuat kondisi Lapangan Sentiling terbengkelai. Kondisi itu terus berlanjut sampai masa kemerdekaan. Ny Atmo Rejo (69), penjual sate di kompleks Trilomba Juang menuturkan, kondisi Lapangan Sentiling pada tahun 1970-an kurang terawat. “Dulu, lapangannya belum diuruk, masih banyak alang-alangnya. Di lapangan itu, ada jalan setapak yang tembus di sekolahan STM (maksudnya SMKN 4-Red). Di sekitar lapangan ada 11 rumah milik warga, termasuk rumah saya,” kata Ny Atmo.

Atmo Timin, suami dari Ny Atmo Rejo bertugas sebagai tukang bersih-bersih di kompleks itu. Dia mendapat upah dari Pemerintah Kota Praja Rp 1.000/bulan. Pada saat GOR Trilomba Juang dibangun, warga diminta pindah ke tempat lain.
“Saya dan suami yang menanam pohon jati dan cemara di sekitar lapangan. Sebagian pohon sudah ditebang, tapi sisanya masih ada sampai sekarang.” (Rukardi-56) (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/05/07/12368)



Posted by Agung Sulistyo On 08.03 No comments READ FULL POST

Dulu : Bioskop yang terkenal dengan nama Bioskop Murni.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan ruko Gajah Mada (jalan GajahMada)

Dulu : gedung ini di kenal sebagai Gedung Harmoni (Gris) (1915-1930), dahulu Societ de Harmonie merupakan tempat Meneer2 dan Mevrof2 kalangan atas untuk hangout, sempat menjadi gedung kesenian jawa, di bagian belakang gedung Gris ini dulunya ada gedung wayang orang Ngesti Pandawa pernah jaya di era 1970-80an, sekarang pindah di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh).
Sekarang : menjadi pusat perbelanjaan Paragon Mall dan Hotel Crowne Plaza (jalan Pemuda)

Dulu : Kantor Gubernur lama (mungkin, masih belum jelas gedung ini difungsikan sebagai apa, sebelum akhirnya menjadi Gedung Berlian), pada jaman pemerintahan Hindia Belanda dulunya bernama jalan “Oey Tiong Ham Weg
Sekarang : menjadi Kantor Gubernur kota Semarang (dikenal dengan sebutan Gedung Berlian, dibangun pada tahun 1970-an di-era Gubernur Muladi), sekarang bernama jalan Pahlawan. Setiap hari minggu jalan Pahlawan dijadikan kawasan Car Free Day di Semarang.

Dulu : Luna Theater Djomblang.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan MetroPlaza – ini perempatan antara jalan MT.Haryono – jalan lampersari – jalan Sriwijaya.

Dulu : Rumah Setan (Vrijmetselaars-Loge) dibongkar tahun 1976.
Sekarang : menjadi pusat pertokoan ruko, ini adalah perempatan jalan Imam Bonjol – jalan Pierre Tendean – jalan Indraprasta.

Foto lama : dari berbagai sumber.
Foto baru : Heroe AbimanyuOASE (‘Oude Stad’ Art and Culture) Semarang.


Sumber: http://semarangkota.com
Posted by Agung Sulistyo On 08.01 No comments READ FULL POST

Bisakah jadi Youth Center remaja Semarang?

Minggu-minggu belakangan, terkuak hasil dari Sembiz seminar yang diselenggarakan di Hotel Gumaya, telah ditandatangani beberapa Letter Of Intent (LoI) antara pemkot dengan investor. Diantaranya yang kemudian jadi polemik adalah pembangunan/revitalisasi lapangan Tri Lomba Juang.













Pemkot dan Investor merencanakan pembangunan hotel dan pusat perkantoran di kawasan ini, dengan menjanjikan tetap mempertahankan kawasan tersebut sebagai kawasan olahraga. Mungkin yang dibayangkan, hotel yang dimaksud adalah seperti hotel century atlet yang terletak di kawasan kompleks olah raga Senayan.,


Tri Lomba Juang adalah kompleks sarana olahraga yang paling lengkap di tengah kota Semarang. Bayangkan, di lahan yang sangat terbatas (3,4 hektar), kawasan ini memiliki sebuah GOR yang cukup besar, 6 buah lapangan tennis, dan sebuah atletik track. Sebagai kawasan olah raga, kawasan ini termasuk kawasan prestasi. Karena semua fasilitas olah raganya memiliki standar internasional. Bahkan dari sejumlah stadion maupun lapangan sepakbola, tidak banyak yang  memiliki lintasan atletik seperti di lapangan Tri Lomba Juang Sendiri. Dan dihari week end kawasan ini menjadi kawasan terbuka bagi khalayak umum dari muda hingga tua untuk berolahraga, seperti aerobik, taichi maupun joging.











Dari sejarahnya, GOR ini adalah hadiah atas prestasi atlet Jateng yang menjuarai lomba Tri Lomba Juang, yaitu olah raga kelompok yang mempertandingkan 3 jenis lomba yang diadopsi dari angka-angka keramat 17 km cross country, 8 km lari, dan 45 km gerak jalan, pada era tahun 80an.

Sebenarnya cukup strategis niatan pemkot untuk mengangkat kawasan ini untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Namun beberapa kalangan cukup menyayangkan langkah pemkot yang dinilai grusa-grusu. Mereka yang berkeberatan  menakutkan beberapa hal.



  1. Kawasan tersebut akan menjadi kawasan komersial, sehingga masyarakat tak dapat lagi mengakses fasilitas yang ada, atau jika hendak mengakses harus mengeluarkan biaya yang mahal.
  2. Dipertanyakan juga, apakah jika telah dibangun apakah pemkot tetap menjadi pemegang otoritas atas penggunaan kawasan tersebut. Dan apakah lapangan tersebut masih bisa duigunakan sebagai tempat pusat pelatihan atlet, terutama atlet atletik.
  3. Kawasan tersebut merupakan kawasan pendidikan yang di kiri kanannya merupakan kawasan pendidikan. Setidaknya ada 6 sekolah(SMA 1, SMPS, STM Pembangunan, STM4, SMA Diponegoro, SMP 10) dan 1 universitas (Unisbank) berdiri dan bersebelahan langsung dengan kawasan tersebut. Dikuatirkan kawasan komersial tersebut akan mengganggu aktivitas pendidikan di beberapa sekolah tersebut.
  4. Dari segi lingkungan, ditakutkan pembangunan kawaan ini akan mengurang keeradaan ruang terbuka hijau di kawasan pusat kota Semarang.

Untuk itu beberapa elemen kota meminta pemkot untuk mempertahankan fungsi lapangan tersebut. Walupun secara kontradiktif kondisi terakhir Gelora Tri Lomba Juang sangat memprihatinkan, atau dengan kata lain rusak, karena beberapa fasilitas tak dapat digunakan secara maksimal. (Atau ini kondisi ini memang sengaja dibiarkan, soalnya memang hendak diproyekkan)

Lepas dari ketakutan-ketakutan itu , sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dikompromikan. Saya masih melihat ada banyak peluang untuk tetap membangun kawasan tersebut menjadi sebuah kawasan yang dapat memuaskan beberapa pihak yang berkepentingan, dari beberapa titik singgung.

Titik singgung tersebut adalah:
  1. Tetap menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan komersal, sehingga pemkot dapat melakukan perawatan fasilitas yang ada,
  2. Kawasan komersial tersebut adalah juga sebuah kawasan yang menunjang kebutuhan pengembangan pendidikan dan olah raga.
  3. Kawasan tersebut harus tetap mempertahankan ruang terbuka hijau yang ada.

Saya sendiri sebenarnya sangat tertarik dengan konsep yang dikembangkan kawasan GOR Sumantri Bojronegoro di Kuningan Jakarta. Kawasan ini berada di area yang kurang lebih seluas GOR Tri Lomba Juang. Kawasan ini bisa dikatakan sebagai pusat kegiatan olah raga dan pendidikan. Dalam kawasan tersebut setidaknya bisa disebutkan fasilitas yang ada adalah: sebuah Mall bernama Pasar Festival yang menyediakan kebutuhan remaja, Book store dan beberapa gerai franchiese, dan mini market. Mal ini terintegrasi langsung dengan banyak fasilitas olahraga, seperti lapangan sepak bola dengan atletic track, kolam renang, Indoor stadium, Gym/fitness center, bowling, bilyard, dan wall clambing. Selain fasilitas olah raga, di kawasan ini juga memiliki sebuah food court yang dilengkapi dengan sebuah music corner (yang bisa diisi oleh band-band indie), sebuah karaoke corner dan sebuah kampus pun berdiri di kawasan tersebut.

Konsep tersebut dapat juga diadopsi untuk pengembangan kawasan Tri lomba Juang. Kawasan ini bisa dikembangkan sebagai pusat bisnis pendidikan, hiburan (positif) dan olah raga bagi remaja di kota Semarang. Terlebih Semarang sendiri belum memiliki kawasan terpadu untuk kegiatan kepemudaan (kecuali GOR Manunggal Jati, yang agenda kegiatannya pun belum dapat dimaksimalkan).

Kawasan GOR Tri Lomba Juang selain dikembangkan seperti halnya GOR Sumantri Bojronegoro, dapat dimaksimalkan pula dalam konsep Mal pendidikan. Antara lain Mal tersebut memberi peluang usaha bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar bisnis, dengan membuka gerai murah semisal Distro/ Bistro, Studio atau Youth Bazar. Juga dapat dibuka beberapa lembaga bimbingan belajar dan aneka kursus (musik, acting, dance dll), Free Hotspot area atau internet cafe, dan book store point, maupun (jika perlu) terdapat cinema room atau bioskop. Selain itu beberapa ruang dapat disewakan bagi beberapa LSM atau lembaga kepemudaan untuk dapat berkantor di kawasan tersebut.

Point yang harus dijaga dari kawasan tersebut adalah jaminan dari pemerintahj kota bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang aman bagi pelajar dan mahasiswa. Yaitu kawasan yang bebas dari kenakalan remaja seperti bebas miras, bebas narkoba, bebas pornografi dan kawasan bebas bolos sekolah. Ini sangat penting, setidaknya hal ini akan membuat orang tua merasa secure jika anaknya bermain di kawasan ini, dan dukungan orang tua atau warga pada kawasan ini, berarti merupakan nilai tambah bagi investor untuk mengembangkan bisnisnya.

Beberapa manfaat positif dari pendirian kawasan tersebut adalah. Kawasan ini akan akan menjadi center point bagi kegiatan remaja dan pemuda di kota Semarang, sakaligus fasilitas tersebut memiliki nilai komersial bagi pemerintah kota dan investor, yang ujung-ujungnya dikembalikan untuk perawatan fasilitas yang ada (sehingga tak terbengkelai seperti kondisi saat ini).

Mungkin keuntungan yang bisa diambil dengan konsep pembangunan seperti ini tak sebesar jika dibandingkan dengan konsep pembangunan kawasan komersial murni. Namun dalam jangka panjang, fasilitas ini akan menjadi pusat interaksi remaja Semarang dalam meningkatkan nilai saing remaja Semarang dibanding remaja-remaja kota lain, mengingat saat ini sepertinya remaja Semarang seperti minim prestasi dalam banyak bidang, dan ujung-ujungnya akan semakin menarik banyak remaja untuk mengunjungi tempat tersebut, dan ikut memanfaatkan fasilitas yang ada.

Bagaimana? Apakah Pemkot juga telah memikirkan hal ini?



Posted by Agung Sulistyo On 04.28 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Label

Advertisement

Translate

Categories